Sejarah Singkat Perkembangan Industri Kereta Api Indonesia

 

Sejarah Singkat Perkembangan Industri Kereta Api IndonesiaTerlalu banyak sejarah yang patut diceritakan. Namun pada kesempatan ini kami hanya akan mengulas tentang sejarah singkat tentang perkembangan industri Kereta Api Indonesia pertama yang mungkin telah melegenda hingga detik ini. Di awal tahun 1830, tentara Belanda berhasil menguasai kekayaan Indonesia dengan menanamkan sistem Cultuurstelsel. Yang bertujuan agar warga pri bumi melakukan kerja paksa untuk menghasilkan komoditas ekspor mulai dari tarum, rempah – rempah, teh, kopi, tebu dan lain – lain. Awalnya komoditas tersebut diangkut melalui transportasi jalan raya. Akan tetapi hal tersebut tidak terlalu efisien. Kemudian Kolonel J.H.R. Carel Van der Wijck mengajukan pembangunan rel kereta api pada jaman Hindia-Belanda untuk memudahkan proses komoditas ekspor terhitung tahun 1840.

Peresmian Jalur Kereta Api Jaman Belanda

Proposal pengajuan rel kereta api tersebut memakan waktu lama. Singkatnya, pada 07 Juni 1864 telah diresmikan pembangunan awal jalur kereta api pertama di Desa Kemijen, Semarang. Beberapa pekan kemudian, Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele bekerja sama dengan perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) di bawah kepemimpinan Ir. J.P de Bordes untuk melakukan pencangkulan pertama terhadap rel kereta api.

Pada masa itu, jalur kereta tersebut baru bisa digunakan pada 10 Agustus 1867 sebagai jasa angkutan umum untuk kepentingan Belanda. Selebihnya jalur kereta api tersebut dinyatakan resmi sbg negara ke-2 Asia yang mampu menghubungkan jalur lintas Kota. Akan tetapi kereta pada masa itu masih dijalankan dengan bantuan pembakaran kayu dan batu bara.

Pada 08 April 1875, Pula Jawa menjadi saksi atas terbangunnya lintasan kereta api. Setelah itu pemerintah Hindia-Belanda meresmikan rute berikutnya dengan menghubungkan Malang-Pasuruan-Surabaya melalui perusahaan Staatssporwegen (SS).

Setelah melihat kesuksesan SS dan NV. NISM, beberapa perusahaan dan investor lain pun turut meramaikan pembangunan jalur kereta api. Pada akhirnya, sejumlah pihak yang terlibat di dalamnya pun berhasil membangun jalur utama di berbagai daerah mulai dari Sulawesi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Aceh. Diketahui bahwa sejak tahun 1928, panjang jalur kereta api tersebut mencapai 7.464 km.

Jepang Mengakuisisi Kereta Api Indonesia

Memasuki tahun 1942, negara Jepang melakukan pemberontakan besar – besar terhadap warga Indonesia dengan mengakuisisi Kereta Api di balik kekuasaan Hindia-Belanda. Di masa itu, perkeretaapian Indonesia berubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi di atas segalanya. Beda halnya sejak pemerintahan Hindia-Belanda, mereka tak hanya melancarkan komoditas ekspor saja, namun memberikan kesempatan utama penduduk pri bumi dalam mengembang tugas pemerintahan.

Sejak era kekuasaan Jepang, hal tersebut terlihat bertolak belakang. Mereka pun membangun berbagai lintasan baru untuk melancarkan aksi anarkisnya terhadap bangsa Indonesia. Salah satu lintasan yang paling diunggulkan adalah Muaro-Pekanbaru dan Saketi-Bayah. Jalur tersebut dirancang untuk mengangkut sejumlah mesin peperangan. Lebih dari itu, mereka pun mengurangi dan membatasi panjang ruas rel kereta api yang dulunya 6.811 menjadi 5.910. Ironisnya, pembongkaran tersebut mereka perluas ke Myanmar untuk memperluas wilayah kekuasaan. Selebihnya mereka pun membangun banyak jalur di berbagai negara Asia lainnya untuk meningkatkan kualitas kekuatan dan kejayaan.

Indonesia Mengambil Alih Kekuasaan Jepang

Indonesia tidak butuh waktu lama untuk mengambil kekuasaan perkeretaapian dari tangan Jepang. Tercatat bahwa masa Perang Dunia II tahun 1945, Jepang tercabik – cabik akibat peluncuran bom atom yang terjadi di Nagasaki dan Hiroshima. Pada peristiwa itu, Indonesia mampu memperdaya pasukan Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pihak pemerintah kemudian mengambil alih Kantor Pusat Kereta Api Bandung (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) pada 28 September 1945.

Selebihnya Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) melalui persetujuan Menteri Perhubungan Abikoesno Tjokrosoejoso berhasil mendirikan Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). 1 tahun berselang, Belanda datang ke Indonesia bukan untuk memulai peperangan, namun melakukan kerja sama untuk membentuk perkeretaapian di Indonesia bernama StaatssporwegenVerenigde Spoorwegbedrif (SSVS).

Singkatnya melalui Konferensi Meja Bundar (KBM) pada 23 Agustus 1949. Semua aset negara sejak jaman Hindia-Belanda jatuh ke tangan Republik Indonesia secara utuh. Sampai pada suatu masa, DKA mengalami perubahan nama menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) pada 1953. 18 tahun berselang, PNKA mengganti nama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Kemudian berubah lagi menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) pada 1991. Setelah itu berganti nama menjadi Perseroan Terbatas, PT Kereta Api Indonesia (Persero) tahun 1998.

Kemajuan PT Kereta Api Indonesia

Di era baru, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Persero resmi sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). KAI telah banyak memberikan peranan yang luar biasa terhadap kemajuan negara mulai dari peningkatan perekonomian hingga komoditas setiap wilayah. Lebih dari itu, industri tersebut telah banyak memperkerjakan sejumlah karyawan dengan melayani para penumpang demi melancarkan segala bentuk mobilitas. Di tengah kemajuan jaman, KAI mampu memberikan fasilitas yang mendukung untuk memberikan kepuasan tak ternilai demi meningkatkan layanan.

Dan di balik semua itu, PT KAI Persero pun berhasil memiliki anak perusahaan yang hingga kini masih aktif beroperasi. Beberapa di antaranya adalah;
1. Kereta Api Service (2003),
2. Kereta Api Bandara (2006),
3. Kereta Api Commuter (2008),
4. Kereta Api Wisata (2009),
5. Kereta Api Logistik (2009),
6. Kereta Api Properti (2009), dan
7. Pilar Sinergi BUMN (2015).