Kereta Ekonomi AC

Kereta Ekonomi AC

Pada hari Rabu, 24 agustus 2010 PT INKA mengadakan uji coba perjalanan Kereta Ekonomi AC pulang-pergi dari Stasiun Besar Madiun menuju Stasiun Solo Balapan.
Dalam rangka mensukseskan program pemerintah menyediakan angkutan lebaran yang nyaman dan aman, PT INKA memproduksi kereta ekonomi jenis baru yang berpendingin(AC).

Uji Jalan Kereta Ekonomi AC

Uji Jalan Kereta Ekonomi AC

Dalam uji jalan tersebut turut serta Direktur Jenderal (Dirjen) Keselamatan dan Terknik Sarana Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko dan Direktur Utama PT INKA Roos Diatmoko.
Kereta ekonomi AC tipe K3 buatan PT Industri Kereta Api (INKA) akan diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Perhubungan 3 September 2010. Kereta tersebut digunakan untuk menunjang angkutan lebaran.

Gallery Kereta ekonomi AC

Direksi dan Manajemen PT INKA

Sambutan Direktur Keuangan

Suasana Pemberian Beasiswa

Dalam rangka memperingati HUT inka yang ke -29, pada tanggal 28 juli 2010. PT INKA mengadakan berbagai macam kegiatan yang merupaka wujud kepedulian PT INKA terhadap lingkungan sekitar kota Madiun. kegiatan tersebut antara lain berupa pemberian 118 beasiswa terhadap siswa berprestasi yang kurang mampu dari 24 sekolah SD, SMP, SMA dan SMK se-kota Madiun.

Lokomotif Bombardier

PT Industri Kereta Api (INKA) dan perusahaan asal Jerman, Bombardier, Selasa (1/6), menandatangani nota kesepahaman untuk kerjasama pengembangan teknologi lokomotif diesel di Indonesia.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan menjelaskan, “Kami meminta Bombardier memberikan workshop mengenai teknologi lokomotif diesel.”

Tundjung menuturkan, lokomotif diesel yang beroperasi di Indonesia sangat terbatas dan umurnya sudah tua, rata-rata di atas 25 tahun.

Teknologi yang ditawarkan Bombardier memiliki keunggulan, antara lain biaya investasi dan operasional relatif rendah. Namun, pengoperasian di setiap negara akan berbeda.

“Faktor manusia sangat berpengaruh,” kata Tundjung. Ia menambahkan, INKA siap menyerap ilmu Bombardier untuk kebutuhan Asia. Lokomotif diesel yang diproduksi akan diprioritaskan untuk jarak menengah dan jauh.

Selain lokomotif diesel, dua dari sepuluh train sheet Kereta Rel Listrik dari Bombardier yang dirakit INKA direncanakan selesai akhir tahun ini. KRL senilai 33,3 juta euro itu akan digunakan untuk trayek Jabodetabek.

sumber : tempo interaktif

Lokomotif Bombardier

Kementerian Perhubungan mendorong PT Industri Kereta Api (Inka) agar bekerja sama dengan Bombardier Inc, Jerman, dalam memproduksi lokomotif diesel untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Tundjung Inderawan mengatakan Bombardier merupakan produsen terbesar lokomotif diesel di Eropa, dengan pelanggan operator kereta cepat di AS dan Eropa.

“Kalau Inka dan Bombardier kerja sama, itu bagus. Jadi misalnya Bombardier mengirim ke Indonesia lokomotif yang belum jadi, untuk kemudian dirakit oleh Inka. Peremajaan lokomotif di dalam negeri jadi yang kini banyak berusia 20-25 tahun, bisa lebih murah,” katanya pekan lalu.

Adapun saat ini jumlah lokomotif yang dioperasikan PT Kereta Api di lintas Jawa dan Sumatra sekitar 300 unit. Jumlah tersebut mengalami penurunan sejak 2000, di mana saat itu PT KA masih mengoperasikan sekitar 400 unit lokomotif.

Bombardier sendiri merupakan pemenang tender pengadaan 10 set komponen kereta rel listrik (KRL) senilai 32 juta euro atau sekitar Rp390 miliar, yang didanai oleh KfW Banking Group Germany.

Perusahaan itu akan mengerjakan 40 unit traksi motor dan sistem kontrol untuk 10 set KRL di Swedia, serta mengerjakan komponen elektrifikasi KRL di pabrik di Jerman, dan set roda di pabrik di Italia.

Tundjung mengatakan di tahun ini dua set KRL akan selesai diproduksi dan tiba di Indonesia pada November dan Desember.

Dia mengatakan seluruh set KRL yang dipesan di Bombardier itu akan digunakan di lintas Jabodetabek, terutama di rute-rute padat seperti Bogor dan Serpong.

“Waktu saya berkunjung ke salah satu pabrik untuk melihat sistem propulsi atau penggerak yang mereka miliki, baru saya tahu kalau ternyata Bombardier juga cukup ahli dalam produksi lokomotif diesel. Karena itu saya dorong agar bekerja sama dengan Inka,” katanya.

Namun, dia mengingatkan ada beberapa hal yang perlu penyesuaian supaya lokomotif produksi Bombardier itu benar-benar cocok digunakan di Indonesia.

sumber : Bisnis Indonesia

Switch to our mobile site